Jumat, 13 Agustus 2010

MataHaRI cEria Di lUPutI keSediHaN




            Duduk sendiri di bawah matahari yang cerah, angin bertiup dengan lembut dan hawa sejuk yang ku hirup membuat aku terhanyut didalamnya. Pohon-pohon yang rindang  berada disekitar tempat  duduk ku serasa melindungiku. Ku lihat matahari yang ceria itu, seakan-akan tersenyum kepadaku. Indahnya hari ini, terasa sempurna hidupku. Ciptaan-MU memang sungguh sempurna.
            Tiba-tiba suasana indah itu hilang. Matahari yang ku lihat seakan-akan menciut dan meredup, angin dan hawa sejuk itu terasa hilang seperti embun dipagi hari yang habis karna sinar matahari yang tajam.
            Aku berdiri dan aku mencari apa yang terjadi, terus kucari dan terus kucari. Namun,  pencarian ku berhenti dan aku terdiam. Kulihat seseorang perempuan yang berada didepanku manatapku dan menangis. Dia lalu berjalan dan memeluk ku, aku binggung apa yang harus aku lakukan. Aku tak tahu siapa dia, tapi kenapa pelukkannya terasa hangat. Ku coba bertanya kenapa padanya, Lalu tiba-tiba ia berkata,” suci” dia terus berkata dan memanggil suci. Aku bertanya-tanya dalam hatiku siapa suci itu.
            Kemudian dia melepaskan pelukannya dan berkata ”maaf” padaku. Lalu dia duduk dan terus menangis. Lalu aku juga ikut duduk disebelahnya dan bertanya apa yang terjadi padanya. Dia hanya diam seribu bahasa, aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya kebingungan yang ada dibenakku.
            Lalu dia kembali menatap ku. Dan aku membalas tatapannya dengan senyumanku, aku melihat tatapannya itu penuh dengan rasa kesedihan yang haru. Lalu dia berkata ”kamu sangat mirip dengan anak ku, mirip sekali. Tatapanmu, wajahmu, senyumanmu sangat mirip sekali dengan anakku”. Kemudian aku bertanya ”emang anak ibu kemana?”.
            Lalu dia menjawab,” anak ibu telah tiada,dia meninggal karna penyakit yang ia derita. Ibu sangat kehilangannya, ibu sangat sedih dan terpukul sekali dengan kematiannya. Ia anak ibu satu-satunya, ibu sangat sayang padanya. Ibu sedih sekali kehilangannya”. Aku hanya bisa terdiam dan tak bisa berkata apa-apa.
            Lalu dia kembali berkata,” kamu sangat mirip dengannya, mirip sekali.” yang kembali menatap ku dengan mata yang berlinangan air mata.
            Kemudian aku bertanya ” apakah ibu ada foto anak ibu tersebut,aku ingin melihatnya.boleh bu’ ”. Dan dia mengizinkanku dan mengambil foto yang ada didalam tasnya. Kulihat memang benar anak tersebut mirip denganku. Aku bertanya-tanya apakah aku mempunyai kembaran. Tapi setahu aku, aku tidak pernah mempunyai saudara kembar. Kemudian aku mengembalikan foto tersebut pada ibu itu. Aku tak bisa berkata apa-apa tentang hal ini, aku hanya bisa terdiam dan terus terdiam. Dan tiba-tiba ibu itu memohon pamit padaku karna ia ingin pergi nyekar ke makam anaknya tersebut. Aku hanya bisa mengangguk dan terus menatap ibu itu sampai akhirnya ia pergi dan samapi tak terhilat lagi.
            Ku kembali melihat matahari, matahari yang ku lihat itu seakan-akan tersenyum ramah dan berkata ” jangan sedih, bersyukurlah”. Dan aku tersenyum dengan matahari tersebut, lalu ku pejamkan mataku dan merasakan hawa sejuk kembali padaku dan angin bertiup dengan lembut. Dan serasa pohon-pohon kembali melindungiku. Semuanya kembali, aku sangat bersyukur dengan apa yang telah diciptakan-NYA padaku. Dan aku tidak akan lupa dengan kesyukuran itu dan aku harus berikhtiar apa yang telah terjadi padaku ini.


ini cerpen ku sob,,
karya ku sendiri walaupun hancur. .
coz baru belajar sob. .hhheee

Tidak ada komentar:

Posting Komentar